Tampilkan postingan dengan label Organik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Organik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Desember 2018

Menentukan KEMATANGAN PUPUK KOMPOS

Menentukan KEMATANGAN PUPUK KOMPOS


Menentukan Kematangan Kompos

Untuk mengetahui tingkat kematangan kompos dapat dilakukan dengan uji laboratorium ataupun pengamatan sederhana di lapangan. Berikut ini beberapa cara sederhana untuk mengetahui tingkat kematangan kompos.
 

Cara Mengecek:

1. Dicium atau dibaui
Kompos yang sudah matang berbau seperti tanah, harum, meskipun berbahan sampah kota. Apabila dan kompos tercium bau yang tidak sedap, itu berarti terjadi fermentasi anaerobik sehingga menghasilkan senyawa-senyawa berbau yang mungkin berbahaya bagi tanaman. Apabila baunya seperti bau bahan mentahnya, itu berarti kompos masih belum matang.

2. Merasakan kekerasan bahan
Kompos yang telah matang lebih lunak sehingga lebih mudah dihancurkan. Meski bentuknya masih menyerupai bahan bakunya, namun bila diremas-remas lebih mudah
hancur.

3. Mengamati wama kompos
Warna kompos yang sudah matang adalah cokelat kehitam-hitaman. Apabila masih berwarna hijau, atau masih mirip dengan warna bahan mentahnya, itu berarti kompos belum matang. Selama proses pengomposan, pada permukaan kompos sering juga terlihat miselium jamur yang berwarna putih.

Cara Membuat KOMPOS SECARA TEPAT

Cara Membuat KOMPOS SECARA TEPAT


TEKNIK PEMBUATAN KOMPOS

Teknik pengomposan yang disampaikan dalam buku ini adalah teknik pengomposan Iimbah pertanian yang sederhana. Prinsip nya adalah mudah, murah, dan cepat. Tahapan-tahapan pengomposannya mudah dilakukan, peralatan yang dibutuhkan mudah diperoleh dan murah, proses pengomposannya cepat dan tidak memerlukan biaya besar, kompos yang dihasilkan ber kualitas baik, dapat langsung digunakan atau dijual.

1. Bahan Pembuatan Kompos

(Gambar 4.1 Jerami sebagal bahan baku pembuatan kompos)

Pada prinsipnya hampir semua limbah organik dapat dikomposkan. Limbah itu dapat berupa sisa panen, limbah industri pertanian, kotoran ternak, maupun serasah atau dedaunan. Sisa panen dapat berupa jerami, sisa-sisa tanaman, daun, sisa-sisa sayuran, dan lain sebagainya. Limbah industri pertanian antara lain onggok, ampas tahu, serbuk gergaji, dan lain-lain.

Rumput-rumputan juga dapat dibuat kompos. Limbah organik yang sebaiknya tidak dikomposkan antara lain kayu keras, bambu, tulang, dan tanduk. Bahan-bahan tersebut memerlulcan waktu yang lama untuk menjadi kompos, sehingga sebaiknya dikomposkan secara terpisah dan bahan-bahan yang lunak.

2. Alat Pembuatan Kompos
(Gambar 4.2 Serasah don doun kering, bahan untuk membuat kompos)

Peralatan yang dibutuhkan untuk membuat kompos dan limbah pertanian antara lain parang/sabit, ember/bak plastik untuk menampung air, ember penyiram, plastik penutup, tali, sekop, cangkul, dan cetakan kompos (jika perlu).

Sebagai penutup dapat digunakan plastik mulsa berwarna hitam. Belah plastik tersebut hingga lebarnya menjadi 2 m. Panjang plastik disesuaikan dengan jumlah bahan yang akan dikomposkan.
Cetakan kompos juga dapat dibuat dan bambu atau kayu. Cetakan ini terdiri dan 4 bagian terpisah. Dua bagian berukuran kurang lebih 2 x 1 m dan dua lainnya berukuran 1 x I m.

3. Lokasi Pengomposan
Pengomposan sebaiknya dilakukan di dekat sawah atau ladang di mana kompos akan diaplikasi, atau dapat pula di dekat sumber bahan baku kompos. Pemilihan lokasi pembuatan yang tepat dapat menghemat biaya trarisportasi dan biaya tenaga kerja. Lokasi pembuatan itu sebaiknya juga dekat dengan sumber air mengingat proses pengomposan memerlukan air dalam jumlah yang cukup banyak.

4. Waktu Pengomposan
Pengomposan sebaiknya dilakukan segera setelah panen atau kurang lebih 1 s/d 2 bulan sebelum mulai tanam. Sisa-sisa tanaman yang baru dipanen memiliki kandungan air yang masih cukup tinggi sehingga lebih mudah dikomposkan. Bahan organik yang telah kering memerlukan tambahan air yang lebih banyak.

Pengomposan juga dapat dilakukan bersamaan dengan saat penyiapan bibit agar pada saat bibit siap dipindahkan ke ladang, kompos juga sudah siap digunakan.

5. Aktivator Pengomposan
Aktivator pengomposan, atau biang kompos, mengandung mikroba yang dapat mempercepat proses pengomposan. Penggunaan aktivator ini, selain dapat mempercepat proses pembuatan kompos, juga dapat meningkatkan kualitas kompos yang dihasilkan. Gunakan aktivator sesuai petunjuk yang disertakan dalam

kemasan aktivator tersebut. Jika aktivator pengomposan sulit diperoleh, Anda dapat menggunakan kotoran ternak atau rumen sapi sebagai ganti.

6. Tahap Pengomposan
(Gambar 4.3 Air dimasukkan ke dolum bak/ember)
1. Siapkan air dalam bak atau ember secukupnya. Volume air yang diperlukan kurang lebih 300 L untuk setiap 1 m3 bahan.
2. Masukkan aktivator ke dalam bak sesuai dosis yang diperlukan. Aduk hingga tercampur meran.
3. Siapkan cetakan bambu. Sesuaikan ukuran cetakan dengan bahan yang tersedia.

(Gambar 4.4 Aktivator dimasukkan ke dalam bak dan diaduk hingga tercampur merata)
4. Masukkan satu lapis jerami/bahan dengan ketinggian ± 20 cm. Jika tersedia dapat juga ditambahkan kotoran ternak/pupuk kandang. Bahan-bahan yang ukurannya besar, seperti batang pisang. harus dipotong-potong terlebih dahulu.
(Gambar 4.5 Masukkan bahan ke dalam cetakan bambu)
5. Siramkan aktivator yang telah diencerkan di atas tumpukan bahan secara merata.

(Gambar 4.6 Buhan disiram dengan aktivator secura merata)
6. injak-injak bahan hingga menjadi padat.
7. Tambahkan lagi satu lapis bahan dan siramkan kembali aktivator di atas tumpukan itu.
8. Injak-injak lagi hingga menjadi padat.
Ganibar 4.7 Tumpukan buhan diinjak-injak agar padat.
9. Ulangi langkah di atas hingga cetakan penuh.
10. Setelah cetakan penuh, buka cetakan itu.
11. Tutup tumpukan bahan tersebut dengan plastik yang telah disiapkan. Penutupan harus benar-benar rapat agar suhu dan kelembaban terjaga.
12. Ikat plastik dengan tali agar tidak mudah lepas. Jika perlu bagian atas tumpukan diberi pemberat agar plastik penutup tidak terbuka oleh angin.
(Gambar 4.8 Tumpukan buhan ditutup dengan plastik dan diikat kuat)
13. Tutupi bagian bawah plastik dengan tanah lumpur untuk menjaga kelembabannya.
14. Biarkan tumpukan bahan itu selama kurang lebih satu bulan hingga kompos menjadi matang.
(Gambar 4.9 Tumpukan dibiarkan selama 4—6 minggu)
15. Setelah matang, kompos siap digunakan.
Pengomposan juga dapat dilakukan tanpa menggunakan cetakan bilamana cetakan tidak tersedia. Dalam hal ini tumpukan kompos menjadi lebih rendah dengan permu kaan yang lebih luas.

7 Mengamati Proses Pengomposan
(Gambar 4.10 Mengamati proses pengomposon)
Agar proses pengomposan dapat berjalan dengan baik maka perlu dilakukan pengamatan secara teratur, misalnya seminggu sekali, hingga kompoš siap digunakan. Pengamatan dapat dilakukan secara visual dan menggunakan peralatan sederhana.
Pengamatan itu meliputi suhu, kelembaban, penurunan volume, dan kenampakan kompos.

Buka plastik penutup kompos dan raba tumpukan kompos hingga bagian dalam. Seharusnya, dalam waktu satu dua hari setelah pembuatan kompos, suhu akan meningkat dengan cepat hingga mencapai 70°C. Hal itu dapat berlangsung beberapa minggu.

Periksa juga kadar air/kelembaban kompos hingga bagian dalam.Kompos yang baik terasa lembab walau tidak terlalu basah. Sejalan dengan proses penguraian bahan organik menjadi komPos juga terjadi penyusutan volume bahan kompos. Penyusutan volume ini dapat mencapai setengah dan volume semula.

Apabila selama proses pengomposan tidak terjadi penyusutan volume, kemungkinan besar proses pengomposan itu tidak berjalan dengan baik. Amati pula perubahan warna yang terjadi pada bahan kompos. Biasanya warnanya akan berubah menjadi cokelat kehitam-hitaman. Jamur seringkali juga ditemukan tumbuh subur di atas tumpukan bahan kompos itu.

Proses pengomposan yang dipraktekkan ini adalah model pengomposan aerobik. Jadi, seharusnya tidak muncul bau menyengat seperti bau air comberan. Apabila muncul bau menyengat, mungkin proses pengomposan telah berjalan secara anaerob.
(Gambar 4.11 Tumpukan kompos kadang-kadang perlu dibongkar untuk mengatasi permasalahan yang muncul)
 Cara Membuat Pupuk Kompos SKALA RUMAH TANGGA

Cara Membuat Pupuk Kompos SKALA RUMAH TANGGA

Pupuk kompos adalah jenis pupuk organik yang dapat dimanfaatkan sebagai pengganti pupuk kimia, namun dalam jumlah kandungan unsur hara makro (N,P,K) yang cenderung lebih kecil, namun lebih kaya akan kandungan unsur hara mikro yang cukup lengkap karena dibuat dari bahan-bahan alam yang kaya akan bahan organik.

Dengan penggunaan pupuk kompos ini tidak akan memberikan dampak negatif terhadap diri kamu serta lingkungan sekitar.

Penggunaan pupuk kompos dikatakan lebih ramah lingkungan karena pupuk kompos ini lebih cepat mengurai didalam tanah sehingga tidak akan menyebabkan cekaman pupuk didalam tanah, penggunaan pupuk kompos juga dapat meningkatkat kesuburan tanah dengan meningkatkan tekstur tanah tersebut sehingga tanah yang dikatakan kurang produktif jika diberikan kompos maka akan membuat tanah tersebut akan menjadi produktif. 

Jika hanya dengan penggunaan pupuk majemuk yang kita beli di toko pertanian, maka tidak akan dapat menambah kesuburan pada tanah tersebut, dan hanya menambah unsur kimianya saja, sehingga jika diberikan pupuk kimianya saja yang terjadi hanya akan memperburuk kondisi tanah tersebut.

Penggunaan kompos ini cocok digunakan untuk mereka untuk bercocok tanam dipekarangan rumah kamu ataupun digunakan pada skala yang lebih besar lagi.

Nah, disini saya sebagai penulis akan menjelaskan cara pembuatan pupuk kompos secara sederhana dan mudah mudahan dapat bermanfaat bagi teman-teman yang membutuhkan info ini, untuk lebih jelasnya silahkahkan disimak penjelasan diawah ini...

Bahan-bahan untuk pupuk kompos

1.  Perbandingan 1: bagian kotoran. 
2.  Perbandingan 1: sekam padi.
3.  Perbandingan 1: dedak.
4.  EM4 Pertanian.
5.  1 liter molase/gula.
6.  Air bersih 25 liter atau lebih. 

Cara Pembuatan pupuk kompos


1. Cari terlebih dahulu bahan-bahan organik yang akan digunakan dalam pembuatan pupuk kompos, disini saya menggunakan kotoran kambing, sekam padi, dan dedak.
2. keringkan beberapa bahan tersebut dibawah terik matahari untuk menurunkan kadar air dari bahan tersebut.
3. Kumpulkan bahan-bahan organik tersebut dalam satu tempat dengan perbandingan bahan kotoran, sekam padi, dan dedak dengan perbandingan 1:1:1. 
   
   

4. Campurkan bahan-bahan tersebut secara merata dengan menggunakan bantuan sekop ataupun sejenisnya.


5. Tambahkan air yang telah tercampur dengan EM4 dan molase kedalam campuran bahan-bahan kompos tersebut.


6. Lakukan pencampuran secara berulang-ulang hingga basah dan dapat dipegang oleh tangan.


7. Masukkan kedalam karung plastik dan diikat rapat.


8. Diamkan selama sekitar 2 minggu atau lebih sesuai dengan jumlah pupuk yang diproduksi.


9. Setelah 2 minggu, maka pupuk tersebut sudah dapat diaplikasikan pada tanaman kamu.
Cara Memulai Hidup ORGANIK

Cara Memulai Hidup ORGANIK

Hai, salam petani berdasi…… Disini sebagai penulis saya akan mengajak bagaimana cara hidup untuk sehat dizaman now dengan memulai beralih menerapkan system pertanian organik dan menerapkannya didalam keseharian kita tentunya tampa ribet dan tampa keluar uang banyak.

Kebanyakan orang saat ini banyak yang tidak percaya bahwa penerapan system pertanian organik itu tidak sepenuhnya dapat diaplikasikan didalam keseharian mereka serta terkesan merugikan petani, pemikiran-pemikiran seperti ini tak jarang keluar dari mulut orang-orang yang tidak paham tentang diri mereka dan sekeliling mereka, Hal ini mengapa sangat penting sekali,? Mengingat disaat kamu makan, ketahuilah ada berapa racun yang terkandung didalam sayuran dan buahan yang kamu santap bersama keluarga kamu tiap harinya yang tidak kamu ketahui, tentunya ada minimal ada 12 Jenis Racun kimia berbeda yang masuk kedalam tubuh kamu yang tidak diketahui mulai dari :

Beras                      (Pupuk - Pestisida kimia)
Bawang                  (Pupuk - Pestisida - Fungisida Kimia)
Cabai                       : (Pupuk - Pestisida - Fungisida Kimia)
Serai                        (Pupuk - Pestisida kimia)
Sayur hijau           (Pupuk - Pestisida kimia)

            Begitulah fakta yang mencengangkan dari beberapa bahan pokok yang selalu kita santap setiap harinya, namun saya harap setelah kamu membaca artikel ini tidak menjadikan kamu jadi takut dengan sayuran ya :-D.

Cobalah untuk membaca-baca buku dan beberapa sumber bacaan tentang apa itu pertanian organik dan cobalah untuk memulai untuk menerapkannya didalam keseharian kamu, dimana dengan kamu mengkonsumsi sayur organik akan mendapat banyak sekali manfaat yang diantaranya:

  • Lebih sehat
  • Kaya gizi
  • Ramah lingkungan
  • Bahan baku tersedia dialam

Dengan menumbuhkan hal-hal kecil seperti ini, akan memberian manfaat besar bagi kamu, mulailah dari kamu dan keluargamu dengan mengajak mereka mengenal tanaman sayuran yang sehat dan mulailahlah dengan menanam sendiri dipekarangan rumah kamu, dan selanjutnya lihatlah beberapa orang disekitar kamu mulai mengikuti hal serupa dan berilah arahan kepada mereka untuk terus meningkatkan pengetahuan mereka.


Penerapan system organik ini dapat diterapkan pada semua jenis tanaman baik sayuran, pangan dan tanaman musiman. Mungkin juga ada banyak pertanyaan dari mereka bahwa yang system organik itu apa saja ya, nah organik itu dapat digunakan pada banyak lo, contohnya..
  • Pupuk organik
  • Pestisida organik
  • Hormon organik
  • ZPT organik’
  • Perangkap hama sederhana
  • Nutrisi organik untuk hidroponik
  • Pakan ternak
  • Dsb

Jadi cobalah sejenak untuk belajar dengan membaca beberapa artikel yang akan saya post di blog Petanibedasi-media.blogspot.com dan akan selalu update setiap minggunya.

Ada beberapa fakta unik yang dapat dari beberapa petani konvensional yang masih menggunakan bahan-bahan kimia untuk bertani mereka, bahwa petani yang menanam sayur untuk konsumsi mereka sendiri berpotensi besar mengidap penyakit kanker yang diakibatkan oleh senyawa kimia tersebut, dari beberapa kasus para petani dipedesaan juga banyak kita dapati mereka yang keracunan akibat sayuran yang mereka tanaman sendiri. Lucunya mereka tetap saja masih melakukan hal tersebut ya…

Cobalah renungkan dan jadilah generasi pencetus system organik ini untuk disekitar lingkungan kamu sehingga kamu dapat menyelamatkan nyawa beberapa orang yang kamu sayangi, dan dapat juga menjadi nilai ibadah disisi allah….
Cara Membuat Hormon ORGANIK Skala Rumahan

Cara Membuat Hormon ORGANIK Skala Rumahan

Hal sederhana yang dapat kamu lakukan bagi mahasiswa ataupun anak asrama yang ingin memiliki kebiasaan hidup sehat, yaitu cobalah dengan menanam sayuran sendiri disekitar rumah kita dengan memanfaatkan pekarangan yang tidak terlalu besar, namun dapat menghasilkan beberapa sayuran sehat untuk dikonsumsi sendiri.
Cobalah memulai dengan menanam sayuran hijau dengan periode tanam sekitar 1 minggu sekali, karena tanaman sayuran ini rata-rata sudah dapat dipanen selama 1 bulan, sehingga dengan menanam selang waktu 1 minggu sekali, maka dalam sebulan kita dapat memanen sebanyak 4 kali, kan lumayan ya… bagi yang ingin lebih sering memanen cukup lakukan penanaman dalam selang waktu yang lebih cepat baik 3 hari sekali atau 5 hari sekali.

Bahan yang digunakan

  • Benih
  • Tanah
  • Polybag
  • Pupuk + Hormon

      Cukup sederhana sekali, cukup dengan membeli beberapa perlengkapan, dan pupuk+hormon yang akan digunakan untuk menggantikan pupuk kima dapat kita buat dengan bahan didalam keseharian dan dengan cara pembuatan yang cukup mudah, simak penjelasan dibawah ini ya…

1. Hormon Dari Susu




- Bahan dan Alat
·         Susu segar
·         Minuman yakult
·         Gula pasir atau gula aren
·         1 botol kosong ukuran 1,5 liter

- Cara Pembuatan
·         Tuangkan susu ke dalam botol yang telah disiapkan.

·         Masukkan yakult dan gula pasir sebanyak satu sendok makan.

·         Kocok dan seterusnya didiamkan selama 3 hari fermentasi hormone tersebut.
·         Buang gas yang keluar selama masa fermentasi.
·         Setelah 3 hari, homon susu tersebut sudah siap dipakai.

2. Hormon Dari Telur


- Bahan dan alat
·         Telur ayam sebanyak 5-10 telur
·         Yakult
·         Gula pasir atau gula aren
·         1 botol kosong 1,5 liter

- Cara Pembuatan
·         Masukkan telur sebanyak 5 butir  ke dalam botol

·         Masukkan yakult dan gula pasir sebanyak satu sendok makan.

·         Kocok dan seterusnya didiamkan selama 3 hari fermentasi hormone tersebut.
·         Buang gas yang keluar selama masa fermentasi.
·         Setelah 3 hari, homon susu tersebut sudah siap dipakai.

- APLIKASI

·         Siapkan alat seperti gembor
·         Ambil 2 sendok makan hormon dari susu dan 2 sendok makan hormon dari telur
·         Tambahkan sekitar 10 - 15 liter air 
·         semprotkan rutin dalam jangka waktu 4 ataupun 1 munggu sekali